FAKTAKALTENG.COM – Masyarakat Kabupaten Seruyan, terkhusus desa Tumbang Langkai, Kecamatan Suling Tambun, Kalimantan Tengah (Kalteng) masih mempertahankan adat dan budaya yang diwariskan nenek moyang mereka agar tidak tergerus oleh zaman.
Seperti Hapoa, salah satu budaya di Desa Tumbang Langkai yang diadakan setiap ada tokoh masyarakat beragama Hindu Kaharingan yang meninggal dunia sebagai wujud duka dan menghibur keluarga yang tinggalkan dengan menyalakan api dari tikar purun dan di arak di luar dan dalam rumah duka, diiringi dengan musik tradisional khas suku Dayak (Tegah Bukung).
“Hapoa ini salah satu budaya yang sampai saat ini masih ada di di daerah kita, disetiap desa namanya berbeda tapi di Tumbang Langkai namanya Hapoa, bentuk adatnya sama, masyarakat membakar tikar purun dan diarak bersama-sama,” ujar Jonatan, salah satu tokoh pemuda Desa Tumbang Langkai, saat di wawancarai, Selasa, (12/10).
Di tambahkannya , selain budaya Hapoa, masih banyak adat budaya lain yang masih berusaha mereka pertahankan agar terus lestari, seperti Babukung dan lain-lainnya.
“Disetiap upacara adatnya berbeda-beda, tergantung dalam rangka apa, kami sebagai anak muda terus berupaya menjaga dan dan meneruskan ke generasi mendatang,” katanya.
Ia berharap, adat istiadat dan budaya daerah seperti diatas harus secara turun temurun diwariskan, mengingat zaman transisi seperti sekarang banyak generasi muda yang mulai melupakan tradisi.
“Kami berharap, selain kami sebagai masyarakat, pemerintah daerah juga harus lebih gencar dalam promosi dan edukasi kepada khalayak luar tentang urgensi tradisi daerah yang harus terus ada sampai kapan pun dan dimana pun itu berada,” pungkasnya. (Dy)














































































