FAKTAKALTENG.COM – Bermacam risiko tekanan global maupun domestik menjelang bulan suci Ramadhan memiliki potensi besar akan mempengaruhi naik turunnya inflasi di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Maka dari itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng menggelar High Level Meeting yang membahas mitigasi berbagai risiko inflasi, pada Selasa (29/3) di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng.
Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo mengungkapkan, datangnya hari besar umat muslim tersebut akan berdampak pada peningkatan permintaan masyarakat terhadap bahan pokok (bapok).
“Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kalteng, selama tiga tahun terakhir HBKN Ramadhan dan Idul Fitri terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga seperti beras, bawang putih, daging ayam ras, dan lain-lain dengan rata-rata tingkat inflasi meningkat dikisaran 0,41% (mtm),” katanya.
Sementara itu, dari sisi domestik, tekanan inflasi jamak bersumber dari peningkatan konsumsi masyarakat seiring dengan arah pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19 dalam beberapa tahun belakangan.
Dan kenaikan beberapa tarif administrasi seperti PPN sebesar 11% ditambah kondisi geopolitik Rusia dan Ukraina yang mendorong kenaikan harga komoditas seperi minyak bumi.
“Pemerintah mulai melonggarkan aturan dan pengetatan dalam mobilitas masyarakat, hal ini akan sangat berdampak positif pada perekonomian masyarakat yang akan mendorong peningkatan ekonomi pada sisi konsumsi masyarakat,” lanjutnya.
Menyikapi berbagai resiko tersebut, dirinya memberikan arahan kepada Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh kabupaten atau kota se-Kalteng untuk bersinergi menyiapkan berbagai upaya pencegahan. Yang mana diantaranya pemantauan kecukupan stok barang, melakukan operasi pasar, berkomunikasi dengan masyarakat untuk menjadi konsumen bijak serta kajian terhadap opsi stabilitas harga jangka panjang dengan pemanfaatan badan Usaha Milik Daerah (BUMD). (Dy)




















































































