KUALAPEMBUANG, FAKTAKALTENG.COM – Rusdawati, 56 tahun, seorang pengusaha acan asal Desa Sungai Undang, Kecamatan Seruyan Hilir, telah menekuni usaha pembuatan acan sejak dua tahun lalu. Wanita yang akrab disapa Acil Ida ini memproduksi acan menggunakan metode tradisional dengan bahan utama udang rebon yang dicampur sedikit air garam.
Acil Ida menjelaskan bahwa proses pembuatan acan memerlukan ketelitian dan tenaga ekstra. “Udang ditumbuk menggunakan lesung, lalu dijemur selama dua hari. Tapi setelah penjemuran hari pertama, harus ditumbuk lagi agar teksturnya lebih halus. Setelah dua kali penjemuran, acan dilepeh lalu dibakar,” ujarnya di Kuala Pembuang.
Menumbuk udang menjadi tantangan tersendiri dalam proses produksi. “Menumbuk itu bagian yang paling sulit, tapi kalau sudah terbiasa, lama-lama jadi lebih ringan,” katanya.
Meskipun harga udang rebon kadang naik, harga acan buatannya tetap Rp10.000 per pcs. Produk acannya banyak diminati, bahkan sering dijadikan oleh-oleh oleh pengunjung yang datang ke Kuala Pembuang. ”
Untuk memasarkan produknya, Acil Ida awalnya menawarkan acan di pasar tradisional. Kini, ia juga memanfaatkan media sosial, seperti Facebook, untuk menjangkau lebih banyak pembeli. “Kadang dalam sebulan bisa laku 50 sampai 70 gelas, terutama kalau ada yang ingin dijual kembali. Kalau beli 10, saya kasih bonus satu gratis,” katanya.
Pelanggan Acil Ida datang dari berbagai wilayah, termasuk perusahaan sawit di Lampasa, Desa Sembuluh, dan Pembuang Rantau Pulut. “Biasanya mereka membeli dalam jumlah besar, sampai 80 gelas,” ungkapnya.
Dalam menjalankan usahanya, Acil Ida mempekerjakan dua orang pekerja karena proses pembuatan acan cukup berat dan bau yang menyengat.
Dengan ketekunan dan metode tradisional yang tetap dipertahankan, Acil Ida berhasil mempertahankan kualitas acannya dan terus menarik minat pelanggan, baik dari dalam maupun luar daerah.
(isn/faktakalteng.com)




















































































