KUALAPEMBUANG, FAKTAKALTENG.COM – Seakan tidak lekang oleh waktu, tradisi mengguling purun masih terus dijaga oleh ibu-ibu di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya lokal. Kegiatan ini dilakukan secara rutin untuk mengolah tanaman purun sebelum dijadikan berbagai kerajinan tangan, seperti tikar dan tas anyaman. Selain mempertahankan tradisi, kegiatan ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Risma (36), salah satu warga yang ikut dalam kegiatan ini, menjelaskan bahwa mengguling purun merupakan tahap penting dalam proses penganyaman. “Biasanya satu ikat purun bisa diguling dua sampai tiga kali agar lebih lentur dan siap dianyam,” katanya, Sabtu (15/2).
Selain menjadi bagian dari warisan budaya, kegiatan mengguling purun juga menjadi ajang kebersamaan bagi para ibu-ibu di desa. Mereka berkumpul, berbagi cerita, dan saling membantu dalam mengolah purun. Hal ini menciptakan suasana gotong royong yang semakin mempererat hubungan antarwarga.
Di sisi lain, produk anyaman purun semakin diminati di pasar lokal hingga luar daerah. Banyak pembeli yang tertarik dengan keunikan dan keawetan produk berbahan dasar purun. Beberapa warga bahkan mulai memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil kerajinan mereka agar lebih dikenal luas.
Dengan upaya yang terus dilakukan, ibu-ibu di Desa Pematang Panjang berharap generasi muda turut melestarikan tradisi ini. Mereka meyakini bahwa menjaga budaya lokal bukan hanya tentang mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat desa.
(isn/faktakalteng.com)




















































































