KUALAPEMBUANG, FAKTAKALTENG.COM – Sebagian besar petani Pisang Kepok yang ada di Desa Bangun Harja, Kecamatan Seruyan Hilir Timur terancam gagal panen. Hal ini diakibatkan banyaknya lahan perkebunan pisang masyarakat di desa setempat yang terendam banjir.
Salah satu petani pisang di desa tersebut Sarman, mengaku mengalami kerugian besar akibat banjir yang melanda kebunnya. “Pisang yang siap panen malah terendam air, batangnya rusak, dan tidak bisa dijual,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini menyulitkan petani untuk menutupi biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari, mengingat pisang merupakan sumber utama pendapatan mereka.
Para petani berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk mengatasi dampak banjir yang mengancam mata pencaharian mereka. Bantuan seperti bibit baru, subsidi pupuk, serta perbaikan drainase menjadi solusi yang diharapkan agar produksi pisang bisa kembali normal. Selain itu, mereka juga berharap adanya kebijakan yang dapat menjaga kestabilan harga pisang di pasaran.
Jika kondisi ini terus berlanjut, harga pisang dikhawatirkan akan semakin naik dan berdampak luas pada perekonomian warga, terutama di daerah sentra produksi. Masyarakat berharap cuaca segera membaik agar panen bisa kembali lancar, pasokan pisang meningkat, dan harga kembali stabil.
Kondisi ini mengakibatkan berkurangnya stok Pisang Kepok di desa setempat dan berimbas pada kenaikan harga komoditas tersebut. Di mana, jika sebelumnya harga pisang hanya Rp4.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 5.000 per kilogram.
Salah seorang pengepul pisang di desa tersebut Jaya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh menurunnya hasil panen petani. “Biasanya stok dari kebun warga di Trans Unit 2 melimpah, tapi sekarang sangat terbatas. Banyak kebun terendam banjir, sehingga panen terganggu,” pungkasnya.
(isn/faktakalteng.com)




















































































