KUALA PEMBUANG, FAKTAKALTENG.COM – Sunarni (47), seorang perajin anyaman asal Seruyan Hilir Timur, Pematang Panjang, telah menggeluti kerajinan menganyam sejak tahun 2011. Keahliannya dalam membuat bakul dan anyaman lainnya diwariskan secara turun-temurun. Namun, untuk membuat variasi produk seperti tas dan dompet, ia mendapatkan pelatihan dari Dina Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Seruyan.
Saat ini, kendala utama yang dihadapi Sunarni adalah pemasaran. “Saya kesulitan memasarkan produk secara online karena sudah berumur dan kurang paham teknologi,” katanya, Selasa (14/1).
Produk yang paling banyak diminati adalah tikar anyaman dengan harga Rp20.000 per lembar. Jika membeli dalam bentuk gulungan berisi 10 lembar, harganya lebih murah, yaitu Rp150.000 per gulungan atau sekitar Rp15.000 per lembar. Selain tikar, produk tas anyaman juga kerap dipesan, terutama oleh kalangan perkantoran dan pemerintahan lokal.
Pemerintah daerah melalui Diskoperindag sebenarnya telah mengadakan pelatihan pembuatan produk kerajinan seperti tas, dompet, ikat pinggang, dan ID card berbahan anyaman. Namun, pelatihan khusus terkait pemasaran produk belum diadakan, meskipun pelatihan pemasaran online pernah diajarkan.
“Produk yang paling sulit dibuat adalah tas modern dengan perpaduan anyaman rotan dan kulit. Harga produknya pun bervariasi tergantung kualitas bahan dan tingkat kesulitan pengerjaan,” ujar Sunarni.
Ia berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pihak pemerintah, khususnya dalam memberikan pelatihan pemasaran yang lebih praktis agar para perajin seperti dirinya bisa lebih mandiri dalam memasarkan produk secara luas.




















































































